Stres dapat mendatangkan malapetaka tidak hanya pada pikiran Anda tetapi juga pada tubuh Anda. Itulah sebabnya mengapa dokter sering memberi tahu kita untuk tidak mencemaskan hal-hal kecil. Hal ini sangat penting, terutama ketika Anda sedang sakit atau jika Anda memiliki sistem kekebalan tubuh yang lemah. Karena mengkhawatirkan dan terus-menerus memikirkan suatu penyakit dapat menyebabkan gangguan fisik. Nah, jika Anda belum mengetahui mengenai hal ini, Anda harus membaca artikel ini.

Kita sering mendengar bahwa psikologi memainkan peran penting dalam menyembuhkan penyakit, dan para dokter setuju dengan hal ini. Dengan kata lain, jika kondisi mental kita sehat, maka kita akan terhindar dari memburuknya kondisi fisik. Namun jika kesehatan mental kita buruk, hal itu akan mempengaruhi kesehatan fisik kita pula. Istilah ‘gangguan psikosomatis’ digunakan ketika kondisi psikis kita memperburuk kondisi fisik kita. Baca terus untuk mengetahui lebih banyak mengenai gangguan psikosomatis dan apa kitannya dengan psikologi.

Apa itu Gangguan Psikosomatis?

Istilah ‘gangguan psikosomatis’ digunakan untuk penyakit fisik yang diduga disebabkan atau diperburuk oleh faktor mental. ‘Psyche’ mengacu pada pikiran dan ‘somatik’ mengacu pada tanda dan gejala fisik yang diamati untuk penyakit. Kebanyakan penyakit bersifat psikosomatis karena penyakit-penyakit tersebut memiliki komponen mental dan fisik.

Gangguan ini mungkin tidak hadir dengan cara yang sama pada setiap individu. Tergantung pada mentalitas dan temperamen Anda, contoh penyakit fisik, seperti ruam atau psoriasis, dapat mengganggu dan cukup untuk membuat Anda depresi dan sakit. Namun, teman lain dengan kondisi serupa mungkin tidak merasa tertekan atau sakit seperti Anda. Dapat juga terjadi kebalikannya, misalnya, seseorang dengan depresi menjadi tidak memiliki napsu makan sama sekali. Dengan demikian, kondisi mental juga dapat menyebabkan penyakit fisik (1, 2).

Gangguan psikosomatis termasuk penyakit seperti eksim, sakit maag, hipertensi, psoriasis, hingga penyakit jantung. Bahkan, sebuah penelitian menyimpulkan bahwa depresi dan kecemasan secara langsung bertanggung pada penyakit seperti infark miokard (3).

Sekarang mari kita lihat tanda-tanda fisik dan gejala gangguan psikosomatis.

Gejala Gangguan Psikosomatis

Sekarang kita tahu bahwa gangguan psikosomatis biasanya dimulai di pikiran, mari kita lihat gejala kondisi ini. Gangguan ini memiliki banyak gejala, termasuk:

  • Denyut jantung yang kencang
  • Palpitasi (berdebar di jantung)
  • Mual
  • Tremor
  • Rasa sakit
  • Mulut kering
  • Keringat
  • Sakit dada
  • Bernapas dengan cepat
  • Pingsan
  • Keletihan berlebih
  • Keram perut
  • Masalah neurologis
  • Keluhan gastrointestinal (4, 5)

Penyebab Gangguan Psikosomatik

Penyebab Gangguan Psikosomatik
Penyebab Gangguan Psikosomatik

Bagaimana kondisi mental seperti depresi, kecemasan, dan stres memicu gejala fisik tidak sepenuhnya jelas. Penelitian masih terus dilakukan untuk penyakit tertentu guna memahami hubungan antara kejiwaan dan beberapa gejala penyakit tertentu.

Beberapa laporan menyimpulkan bahwa peningkatan aktivitas impuls saraf ketika Anda cemas, depresi, atau stres dapat menjadi salah satu faktor yang berkontribusi untuk gejala fisik (6). Terkadang, pelepasan adrenalin dan epinefrin juga dapat memicu gejala fisik saat Anda cemas. Ada banyak penelitian, dan yang terbaru mengenai bagaimana stres dapat menyebabkan penyakit di kalangan perawat, menyimpulkan bahwa kelelahan adalah salah satu penyebab utama gejala gangguan psikosomatis seperti keasaman, sakit punggung, nyeri leher, kelupaan, dan kemarahan (7).

Berdasarkan akar penyebab stres dan bagaimana karakteristik stres itu sendiri, gangguan psikosomatis dibagi menjadi tipe yang berbeda, akan lebih diperjelas di bawah ini:

Jenis Gangguan Psikosomatis

Sebagian besar, gangguan psikosomatis disebabkan oleh stres emosional, yang terbagi menjadi tujuh jenis:

(I) Gangguan Somatoform Tidak Diferensiasi – Pada tipe ini, Anda mengalami satu atau lebih gejala (rasa sakit, kelelahan, kehilangan nafsu makan, dan gejala gastrointestinal) selama minimal enam bulan.

(II) Gangguan Somatisasi – Gejala termasuk rasa sakit, gejala seksual, gejala gastrointestinal, gejala neurologis, gejala menstruasi, dan kelelahan. Terlihat pada orang yang berusia antara 18 dan 30 tahun, gejala ini terjadi selama bertahun-tahun tanpa adanya penjelasan apa pun.

(III) Gangguan Somatoform yang Tidak Ditentukan – Pasien percaya bahwa mereka hamil (padahal tidak) karena munculnya tanda-tanda seperti berhentinya menstruasi, gerakan janin, sakit persalinan, mual, dll.

(IV) Gangguan Konversi – Gejala-gejalanya meliputi ketidakmampuan untuk membuat suara, serangan penyakit mendadak, ketidaksadaran, melorotnya kelopak mata atas, kehilangan sensitifitas di satu atau lebih bagian tubuh, dan masalah penglihatan.

(V) Penyakit Gangguan Kecemasan (Hypochondriasis) – Pasien takut bahwa mereka memiliki penyakit berbahaya yang akan menyebabkan kerusakan besar pada tubuh mereka. Mereka sering mengunjungi banyak dokter untuk membuktikan ini.

(VI) Kelainan Nyeri – Gejala-gejalanya termasuk mengalami rasa sakit di satu atau lebih bagian tubuh dalam waktu lama, tanpa adanya penjelasan apa pun.

(VII) Kelainan Dysmorphic Tubuh – Orang-orang yang terpengaruh dengan kelainan ini merasa bahwa tubuh mereka rusak dan cenderung sering menggunakan perawatan kosmetik untuk memperbaiki penampilan mereka.

Stres emosional sering menjadi penyebab utama gangguan-gangguan di atas (8). Jadi mudahnya, keadaan pikiran dapat mempengaruhi tubuh kita. Yang perlu kita ketahui adalah bagaimana cara merawat dan mengobati kondisi ini. Berikut ini opsi perawatan yang direkomendasikan untuk gangguan psikosomatis.

Cara Mengobati Gangguan Psikosomatis

1. Yoga untuk Gangguan Psikosomatik

Yoga untuk Gangguan Psikosomatik
Yoga untuk Gangguan Psikosomatik

Menurut Ayurveda, yoga termasuk meditasi dan latihan relaksasi yang dapat membantu mengelola gangguan psikosomatis. Karena gangguan ini dipicu oleh kondisi mental seperti kecemasan dan stres, mengikuti kegiatan penghilang stres seperti yoga dapat membantu meringankan masalah mental ini. Latihan pernapasan sederhana dan asana yang akan membuat pikiran menjadi rileks dapat dilakukan setiap hari.

Yoga memiliki efek menenangkan pada tubuh, juga membuat Anda lebih sadar dan menerima diri sendiri dan lingkungan Anda. Uji coba telah menunjukkan yoga sama efektifnya dengan obat untuk gangguan psikosomatis (9, 10).

2. Obat untuk Gangguan Psikosomatis

Obat untuk Gangguan Psikosomatis
Obat untuk Gangguan Psikosomatis

Biasanya, obat-obatan khusus diresepkan oleh dokter umum untuk mengurangi beberapa gejala fisik akibat gangguan psikosomatis. Kebanyakan dokter juga merekomendasikan pasien untuk datang ke psikolog/psikoterapis untuk terapi karena obat hanya memberikan bantuan sementara. Orang yang cemas kemungkinan besar akan mengalami kambuhnya gejala fisik, maka dari itu perawatan terhadap akar psikologis individu sangat diperlukan. Berbagai jenis pengobatan yang digunakan adalah antidepresan trisiklik (TCA), serotonin dan inhibitor reuptake noradrenalin (SNRI), antipsikotik atipikal, reuptake inhibitor serotonin (SSRI), dan obat-obatan herbal (11). Kombinasi obat berbeda-beda diresepkan oleh spesialis tergantung pada usia pasien, intensitas penyakit, durasi, dan respons terhadap pengobatan.

3. Terapi Puasa untuk Gangguan Psikosomatis

Terapi puasa, sebuah pengobatan yang terkenal di Jepang, telah berhasil meringankan gejala fisik dan psikologis pada pasien gangguan psikosomatis. Menurut terapi ini, sistem saraf otonom dan sistem endokrin diatur oleh proses puasa. Akibatnya, tubuh membentuk kembali keseimbangannya untuk kesehatan mental dan fisik (12).

4. Hipnosis untuk Gangguan Psikosomatis

Hipnosis untuk Gangguan Psikosomatis
Hipnosis untuk Gangguan Psikosomatis

Migren, asma, dan masalah gastrointestinal akibat gangguan psikosomatis sering diobati dengan hipnosis. Metode perawatan ini bertujuan untuk menemukan solusi terhadap gejala fisik di alam bawah sadar pasien. Hipnoterapi jangka panjang dapat bekerja secara efektif untuk mengatasi emosi yang mendasari kejiwaan manusia. Kemarahan, ketakutan, dan masalah ketergantungan telah berhasil diselesaikan dengan terapi ini (13, 14).

5. Terapi Perilaku Kognitif untuk Gangguan Psikosomatik

Menurut terapi perilaku kognitif (CBT), bagaimana kita bereaksi terhadap suatu situasi sangat tergantung pada bagaimana kita mengartikannya. Pikiran seseorang terintegrasi dengan emosi, sensasi fisik, perilaku, dan juga lingkungannya, hal tersebut mengarahkan bagaimana individu berperilaku dalam situasi tertentu dan bagaimana proses pemikiran mereka mempengaruhi keadaan fisik mereka. Ketika ideologi ini digunakan untuk mengobati gangguan psikosomatik, itu membantu pasien berpikir secara holistik dan mengurangi kecemasan terkait kesehatan mereka. Sukses besar dicapai ketika CBT disertakan dengan perawatan medis standar dalam berbagai uji coba yang berbeda. Bahkan kasus somatisasi yang parah terlihat menunjukkan perbaikan (15, 16).

Keadaan pikiran dapat memperburuk atau menenangkan kondisi fisik Anda. Oleh karena itu, psikologi memainkan peran penting dalam mencegah dan menyembuhkan penyakit. Jadi, jika Anda mengalami stres yang tidak perlu, ingat bahwa stres dan kecemasan dapat menyebabkan sesuatu yang lebih berbahaya daripada perasaan marah, depresi, atau frustrasi sementara. Berpikiran positif akan segala hal adalah kunci utama hidup sehat.

Bagikan postingan ini dengan teman dan keluarga Anda dan beri tahu mereka mengenai efek buruk dari stres yang berlebihan. Kami juga senang mendengar pengalaman gangguan psikosomatis atau cara apapun yang Anda lakukan untuk menyingkirkan kecemasan dan stres berlebih. Ceritakan pengalaman Anda pada kolom komentar di bawah ini!