Mungkin belum banyak orang yang mengetahui soal penyakit poliosis. Atau mungkin ada yang sudah mengidapnya, namun tidak mengetahui nama penyakitnya dan cara mengobatinya. Poliosis adalah kurangnya pigmen pada rambut dan kulit. Meski tidak berbahaya bagi kesehatan, poliosis tentunya sangat mengganggu penampilan dan membuat rendah diri.

Pada umumnya, poliosis  ditandai dengan kemunculan bercak rambut putih, dan gangguan ini dapat menimpa baik kaum pria maupun wanita dan serta dewasa atau anak-anak. Poliosis bisa muncul karena banyak faktor, misalnya genetik. Lewat artikel ini, kami akan membahas poliosis dan bagaimana cara mengatasinya.

Apa itu Poliosis?

Poliosis.

Poliosis adalah sebercak kecil rambut putih (beberapa helai rambut pada bagian depan) yang tumbuh di antara rambut alami. Dalam kondisi ini, pigmen melanin yang terdapat di folikel rambut tersebut menurun secara drastis, sehingga menyebabkan perubahan warna pada helai rambut.

Poliosis dapat bersifat jangka pendek atau panjang, tergantung penyebab yang memicu pigmentasinya. Pada umumnya, bercak ini dapat terjadi pada anak-anak maupun orang dewasa, terlepas dari jenis kelaminnya. Meski kerap ditemukan di bagian kepala, namun tak menutup kemungkinan gangguan ini juga dapat menyerang bagian tubuh yang lain, seperti alis dan bulu mata.

Jenis Poliosis

  1. Genetik/Bawaan: Tumbuh bercak rambut putih bisa disebabkan oleh keturunan. Gangguan ini dapat tumbuh pada saat bayi lahir karena mutasi gen tertentu atau masalah genetik lainnya.
Poliosis bisa terjadi pada anak-anak.
  1. Non Genetik: Di samping faktor bawaan, poliosis juga dapat dipengaruhi oleh faktor lain, seperti akibat atau efek samping dari penyakit tertentu yang pernah dialami sebelumnya.

Apa Saja Penyebab Poliosis?

Sahabat wanita, munculnya bercak rambut putih ini dapat disebabkan oleh berbagai macam faktor, beberapa di antaranya sebagai berikut:

  • Gangguan Genetik: Piebaldism, sindrom Waardenburg, sindrom Marfan, tuberous sclerosis, sindrom Vogt-Koyanagi-Harada (VKH), giant congenital nevus, dan sindrom Alezzandrini.
  • Penyakit Autoimun: Vitiligo, hipogonadisme, hipopituitarisme, kanker kulit, penyakit tiroid, sarkoidosis, sindrom GAPO, neurofibromatosis, uveitis idiopatik, intradermal nevus, dermatosis pasca inflamasi, halo nevus, pasca trauma, dan anemia pernisiosa.
  • Penyebab lainnya: Alopecia areata, melanoma, herpes zoster (shingles), tahi lalat halo, radioterapi, hipo atau hiperpigmentasi mata, cacat melanisasi, sindrom Rubinstein-Taybi, dermatitis, albino, lepra, cedera, penuaan, stres dan obat-obatan tertentu.

Bagaimana Cara Mendiagnosis Poliosis?

Sebab gangguan ini tak hanya disebabkan oleh satu faktor, sebaiknya lakukan pemeriksaan menyeluruh supaya mengetahui penyebab pastinya.  Biasanya, pertama tim medis akan mengecek rekam jejak penyakit pasien serta keluarganya. Selanjutnya, dilakukan beberapa pemeriksaan, yaitu:

  • Pemeriksaan fisik lengkap.
  • Survei gizi
  • Survei endokrin
  • Tes darah
  • Analisis sampel kulit
  • Penyebab neurologis

Apakah Poliosis dapat Disembuhkan?

Poliosis.

Sayangnya, sejauh ini penanganan poliosis secara tepat masih belum ditemukan, terutama jika disebabkan oleh keturunan. Namun, ada beberapa kiat pencegahan yang bisa kamu lakukan untuk menghindari tumbuhnya poliosis pada tubuhmu, yaitu:

  • Menghindari faktor-faktor penyebab munculnya poliosis.
  • Menjalani pengobatan penyakit yang menyebabkan munculnya poliosis.
  • Mengurangi asupan antibiotik yang berlebihan.
  • Meningkatkan paparan cahaya UV-B.
  • Memakai lotion ammi majus.
  • Melakukan cangkok epidermis pada bagian kulit yang ter-depigmentasi.

Apabila kamu atau orang terdekatmu mengidap penyakit poliosis, maka tidak perlu takut karena masih ada cara untuk mengobatinya. Selain itu, kamu juga bisa melakukan hal-hal tertentu untuk menutupi penyakitmu agar tidak mengganggu penampilan. Misalnya, mengganti gaya dan warna rambut. Yang terpenting adalah kamu tetap merasa percaya diri.